Apabila senyum itu tepat-tepat menuju ke aku
Aku jadi gementar malu.
Lalu dipaksa jemari-jemari ini saling menekan erat
Menahan degupan yang semakin pantas berledakkan.
Dengan berharap,
kelibatnya terus hilang
atau lebih baik ia tak seharusnya datang.
Ternyata..
Debar itu, bukan lah memberat di telapak kanan atau kiri.
Ternyata..
Rasa itu, bukan lah suatu objek yang boleh dihalang dari mendekat ke hati.
Ternyata..
Tanpa sedar..
Senyum dia yang sekali itu, telah berani-berani mengambil ruang di sebahagian hidupnya memori.
by 27kali
No comments:
Post a Comment